Minggu, 11 Januari 2015

Cerita Tentang Pertemanan

Persahabatan itu rumit. Tapi ga serumit yang kalian bayangin.
Ga serumit rasanya pacaran trus pacar kita ngambek.
Ga serumit saat kita ga dibolehin kesana kesini sama gebetan.

Coba gue tanya, bagian mana yang ngebuat persahabatan itu rumit?
Kalo kita ngejalaninnya dengan ikhlas dan lapang dada, tanpa beban, gue rasa gak akan ada yang namanya rumit.
Sahabat itu gunanya menjaga, memperhatikan, menyayangi.
Sahabat juga selalu ada disaat kamu sedih, kamu bahagia, bahkan saat kamu sedang terpuruk sekalipun.

Kalau kamu mengenal sahabatmu dengan baik, kamu pasti tahu bagaimana caranya membuat mereka bahagia. Tanpa beban sekalipun.
Kalo kamu menyayangi sahabatmu, kamu pasti tidak akan pernah membiarkannya terluka. Sekecil apapun luka itu.
Kalau kamu mengerti seperti apa persahabat itu, kamu akan sangat beruntung dan bersyukur memiliki mereka. Bukan malah sebaliknya.

Sedih saat tahu, dia, seseorang yang selama ini ada bersama kita, dalam hitungan detik, tanpa pikir panjang, langsung memutuskan untuk tidak bersahabatan lagi. (Ceritanya panjang, dan rumit, dan mungkin alasannya dia gak masuk akal. Tapi intinya dia memutuskan untuk menyudahi semuany, bukan malah mempertahankan).
Memutuskan untuk, "Ya, aku bisa berdiri sendiri. Tanpa kalian. Aku akan kembali saat aku bisa membahagiakan kalian."

Sepengetahuanku, aku dan bahkan mereka yang memiliki masalah serupa tidak membutuhkanmu disaat kamu sedang berbahagia. Saja.
Tidak membutuhkanmu, ketika kamu sedang sukses. Saja.
Karena kita semua sama. Kita memulai semuanya bersama, dari nol, dari bawah.
Sedih, senang, luka, bahagia kita rasakan bersama.

Saat gue denger kata-kata itu, ya spechless..
Gatau mau ngomong apa. Ga habis pikir juga. Ternyata segampang itu dia melepas persahabatan yang mungkin bisa dibilang juga udah dianggap sebagai saudara.

Ini kita yang egois, atau dia? Kita yang terlalu mengekang, atau memang dari awal dia ga butuh kita?

Cerita ini didedikasikan untuk mereka yang:
- Mengenal sebuah persahabatan
- Mereka yang memiliki sahabat
- Mereka yang tidak mengenal apa itu persahabatan, dan
- Mereka yang tidak memiliki teman atau sahabat

Semoga kalian semua berbahagia..
Amin.

Rabu, 31 Desember 2014

Bad or Good, It's the Began!

Tahun baru..
Semua berawal dengan yang baik, namun adapula yang menyakitkan.
Awalan yang baik adalah, ketika aku bertemu dengan dia, seseorang yang mungkin sudah 10 tahun lebih kami tak berjumpa dan tak bersama.
Awalan yang baik pula ketika aku dan dirinya berbagi canda dan tawa disetiap detiknya.
Meluangkan waktu bersama.
Ya.. bersama...

Namun, perlahan awalan yang baik tersebut berubah menjadi sangat menyakitkan, ketika sebuah perpisahan datang.
Perpisahan yang tak pernah aku harapkan.
Perpisahan, tanpa ada persetujuan dari kedua belah pihak.
Perpisahan yang seharusnya tidak boleh terjadi..lagi...
Dan hanya secarcik kertas berisi pesan yang dia tinggalkan kepadaku
"Aku pergi, kamu jaga diri baik-baik"

Menurutmu, apakah aku akan merasa tenang dengan pesan itu?
Tidakkah kau tahu, aku masih ingin bersama dengan dirimu, melakukan hal yang dulu pernah kita lakukakan bersama.
Aku juga masih ingin mengajakmu ke tempat favoritku, tempat dimana aku selalu memikirkan keberadaanmu.

Namun semua telah terjadi, dan aku tidak bisa mencegah kepergianmu.
Selamat tinggal..
Semoga ada saat, dimana waktu itu akan menjadi milik kita. Selamanya..

Kamis, 25 Desember 2014

Aku: Hati yang Terluka

Aku tak tahu, apakah aku masih "dibutuhkan" ketika ada kita dalam satu ruang.
Aku tak tahu, apakah aku masih akan terlihat ketika berada diantara kalian.
Dan aku juga tak tahu, apakah masih ada tempat bagiku untuk ikut tertawa serta berbahagia ketika ada aku, kamu dan dia, seseorang yang amat sangat kau sayangi dalam suatu masa yang sama.

Dua kali, bahkan lebih. Lebih dari yang kau perkirakan.
Mungkin pula, kau tak tahu dan tak pernah menyadari yang sesungguhnya. Tak akan pernah..
Sekali kau melakukan kesalahan, aku maafkan.
Dua kali kau menyakitiku, aku maafkan.
Tiga kali kau melukai hati ini, aku tetap memaafkan.
Dan untuk kesekian kalinya kau menggoreskan pisau dihati ini, aku akan memaklumi hal tersebut.
Karena aku, bukan dan tak akan pernah menjadi seseorang yang paling berharga dimatamu.

Apakah menurutmu aku akan membalaskan semua rasa sakit ini?
Tenanglah.. aku tak sejahat itu..
Dan aku tak akan pernah melukaimu.
Hanya saja, aku akan sedikit tak peduli terhadapmu.
Bahkan bisa saja aku bersikap biasa dan menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.

Terlepas dari semua itu, aku akan tetap berada disampingmu.
Menemani, hingga kau sadar, bahwa aku, jauh lebih berharga daripada dirinya..
Iya, aku...



Sabtu, 20 Desember 2014

El Qibty: Dari Aku, Untuk Kita Semua

Buku itu sudah terlalu usang dan termakan usia.
Perlahan aku buka halaman demi halaman.
Hingga akhirnya aku berhenti pada pencarianku.
Aku menemukan beberapa tulisan yang sudah lama tak pernah ku baca.
Perlahan setiap kata dan setiap tulisan itu ku pahami dan berharap waktu dapat berjalan mundur kembali..
Aku ingat, dulu, sebelum aku beranjak dan pergi meninggalkan rumah, aku sempat membaca beberapa buku yang memberikanku motivasi.
Beberapa buku yang mengajarkanku tentang sebuah kebenaran.
Salah satu buku yang aku baca adalah buku El Qibty. Sebuah renungan untukku, untuk kita semua...

Berikut, beberapa petikan kalimat yang ada di dalam buku El Qibty:

"Ya Allah... apa yang telah terjadi dengan hamba? Wajarkah jika hamba mengagumi ciptaanMu nan agung? Salahkah jika hamba mengharapkan sesuatu yang belum sepantasnya hamba dapatkan? Ya Allah.... Hamba hanyalah segelintir makhluk dari sekian banyak makhluk yang telah engkau ciptakan dengan sempurna. Hamba hanyalah seorang hamba yang punya cita, harapan dan cinta. Cinta untuk mendapatkan MaghfirahMu agar dapat mencintai surgaMu. Harapan untuk bisa meninggikan kalimat-kalimatMu, dan cinta..."

Tsummas Salam,
Nabilla Aulia

Rabu, 17 Desember 2014

Papa, You're My Everything

Tadi sore aku lagi dengerin lagu-lagunya Ed Sheeran sambil tidur-tiduran.
Terus tiba-tiba kebayang saat dulu aku ga biasa tidur karna nungguin papa pulang.
Mau sampe jam berapa juga papa harus tetep pulang dan nemenin tidur.
Dulu juga waktu kecil, papa rajin buatin aku susu sebelum aku tidur.
Papa juga selalu nguncir rambut aku sebelum aku berangkat ke sekolah.
Papa juga yang selalu bersihin tumpahan susu di badan aku saat aku ketiduran didepan tv.
Papa juga selalu ngangkat dan pindahin aku ke kamar kalo aku ketiduran di depan tv.

Sampe akhirnya aku beranjak dewasa, papa juga selalu ada dan selalu nemenin aku tidur.
Papa peluk aku, papa "pok-pokin" aku..
Waktu aku di opnam, waktu aku sakit, papa juga selalu menghibur aku biar aku makan, papa selalu suapin aku.
Apalagi kalo waktu udah larut, terus aku laper, papa selalu masakin indomie khas buatan beliau.
Indomie, daun bawang, sayur, cabe, semua dimasak jadi satu. Walaupun anaknya ga suka makan sayur, tapi tetep aja dipaksa buat makan sayur.
Apalagi kalo papa lagi masak telor, selalu aja dimasaknya sama cabe iris, daun bawang dan bawang.

Pokoknya papa segalanya buat aku..
Papa selalu kasih kepercayaan sama aku.
Papa juga orangnya ga suka dibohongin.
Walaupun sekarang aku dan papa lagi ga satu rumah, tapi sebisa mungkin kalo aku mau pergi kemana-mana harus izin dan bilang sama papa.
Kalo libur semester juga papa suka langsung nyuruh aku pulang. Saking kangennya dan udah lama ga ketemu.
Papa juga suka cemburu kalo aku lebih memilih kalo libur semester mau jalan-jalan dulu sama temen ato ga sama pacar ketimbang pulang kerumah..

Pasti kalo aku milih jalan-jalan sama temen dan bilang kangen sama temen, papa selalu bilang,
"oh..jadi lebih kangen sama temen-temenya daripada papa?".
Tuh, kalo udah dibilangin kayak gitu trus aku kudu piye? Serba salah kaaannn...
Apalagi kalo ada tanggal merah yang liburnya satu mingguan ato beberapa hari.
Papa pasti telpon dan nanyain,"liburan kemana? Ga pulang?" Atau "kenapa harus ke Bandung? Jadi lebih kangen temen-temennya daripada papa? Ga kangen sama papa?"
Salaaaahh lagiii kaaannn...
Padahal kan maksudnya ga gitu. Huft!

Tapi sekarang, aku udah jarang tidur ditemenin papa. Itu semua karna kesalahan aku sih..
Ga nyangka kalo kejadian waktu itu buat papa mungkin kecewa sama aku.
Hmm...
Kadang ada rasa menyesal dan.....ga kepengen papa berubah..
Maafin Lala yaa paa..

Pengen deh rasanya masa-masa dulu terulang kembali. Ada waktu buat keluarga, have fun bareng.
Liburan sama-sama..
Tapi sayangnya papa susah sih diajakin kemana-mana.
Kalo disuruh milih antara alan-jalan dan berkebun, papa pasti lebih milih buat berkebun.
Waktu itu pernah deh, kita udah sampe Sawahlunto, Padang, bukannya jalan-jalan, papa malah stay di rumah dan buat pance (semacam tempat duduk santai yang terbuat dari bambu).
Niatnya mau jalan-jalan, eh papa malah sibuk sendiri sama kerjaannya. Huft!

Tapi, terlepas dari semua hal itu. Papa lebih dari seorang pahlawan, papa lebih dari seorang papa.
Papa adalah seseorang yang selalu ada dan selalu ingin anaknya bahagia. Papa adalah anugerah yang Allah SWT berikan buat aku.
Aku bangga punya papa kayak Bapak Edward Burhan dan aku sayang sama papa.

Baik, buruknya masa lalu, papa tetep menjadi papa dan selalu mengajarkan hal-hal yang baik terhadapku, terhadap anak-anaknya.
Baik, buruknya kehidupan, papa akan selalu menjadi sosok yang bijak dan tegas.
I LOVE YOU, PA..

Selasa, 16 Desember 2014

Surat Untuk Kekasih (3)

Kemarin, aku menunggumu di cafe tempat biasa kita bertemu.
Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.
Tapi sayangnya, kau tak datang.
Sudah hampir setengah hari aku menunggumu.
Green tea latte hangat yang daritadi aku pesan juga sudah habis.
Kau ingat tidak? Saat kita disini, kau selalu memesan hal yang sama sepertiku.
Kau bilang,"green tea latte itu menenangkan, sama ketika aku berada disampingmu".
Kau selalu mengucapkan kata-kata itu setiap kali kita berada di cafe ini.
Dan kau ingat, saat aku bilang,"kau berusaha merayuku? Setiap kali kita kesini, kau selalu mengatakan hal yang sama".
Kemudian dengan lantang dan tegas kau berkata,"aku tidak sedang merayumu, tapi apa yang aku rasakan memang benar adanya dan ini tulus dari dalam hati".
Aku rindu...aku merindukannya...
Aku......merindukan kita...

Senin, 15 Desember 2014

Untukmu, Sahabatku..

Rasanya udah lama kita ga kayak gini. Ketawa, becanda, seneng-seneng, seakan ga ada beban di hidup ini.
Terakhir kita ngumpul, itu semester awal sebelum kita sibuk masing-masing.
Dulu, kita suka wara-wiri, kuliner, jalan-jalan entah kemana dan selalu diakhiri dengan martabak. Selalu!
Seiring berjalannya waktu, kebahagiaan itu hilang. Ga ada lagi yang namanya quality time bareng kalian. Ga ada..
Kita semua jadi sibuk masing-masing karna kita sekarang lagi ngejer cita-cita kita.
Tapi semalem, rasanya entah kenapa bahagia aja. Kita bisa kumpul lagi, bercanda, tertawa, makan martabak..
Dan kemudian, puncak bahagia yang aku rasakan adalah ketika kita bermain kembang api dan petasan bersama-sama.
Indah.. aku merasa segala beban di dalam diri ini seakan hilang secara perlahan.
Kita adalah sahabat, sampai kapanpun, dan akan selalu menjadi sahabat.
Kepercayaan, keberanian, nasihat, semua adalah milik kita..karna kita adalah sahabat..