Sabtu, 13 Desember 2014

Surat Untuk Kekasih (2)

Terima kasih atas waktu luangmu.
Aku bahagia, walau hanya beberapa detik..
Aku tahu, kau masih marah kan kepadaku?
Kau masih dendam dengan apa yang telah aku perbuat terhadapmu.
Dan aku juga tahu bahwa sebenarnya kau tak ingin melihatku bersedih.
Tapi kau hanya malu untuk mengungkapkan semuanya.

Tenang saja sayang, aku tak akan marah kepadamu, apalagi sampai membencimu.
Aku maklumi semua ini, karna semua memang seutuhnya kesalahanku.
Walaupun demikian, aku tahu, kau masih memiliki hati kecil yang manis.
Hati kecil yang selalu mendorongmu untuk memaafkanku dan menjauhkanmu dari segala ego yang kau miliki.
Aku tahu itu sayang..dan aku yakin..
Karna, aku mengenalmu lebih dari yang kau tahu......sayangku..

Sekali lagi, terima kasih.. aku bahagia..
Aku harap, kau mau menemuiku lagi, sekali lagi...atau mungkin, untuk terakhir kalinya...

Dari aku,
Yang akan selalu menyayangimu..

Kamis, 11 Desember 2014

Tentang Sebuah Pilihan

Hentikan semua kesalahpahaman ini dan jangan biarkan kebencian menyelimuti hatimu.
Ini semua tentang sebuah pilihan..
Jangan sampai sebuah penyesalan adalah hal pertama yang menghampiri hidupmu.
Luka memang akan sembuh, namun meninggalkan bekas.
Tapi yakinlah, disetiap luka yang tlah ditorehkan, pasti akan ada pelajaran yang dapat diambil.

Rabu, 10 Desember 2014

Luka: Saat Cinta Tak Lagi Bersamamu

Mereka benar! Ini seperti kisah cinta segitiga.
Aku terlalu cemburu dengan semua ini. Aku terlalu munafik.
Aku seperti orang bermuka dua.
Aaaaahhh!! Hatiku kacau!
Aku sudah tidak bisa membedakan rasa sayang dan kebencian.
Aku.......aku mengaku kalah dengan semua ini.
Harusnya, dari awal aku tidak tenggelam dalam perasaan penuh luka.
Seharusnya aku menjauh dari jiwa yang penuh dengan kebencian.
Berhenti memikirkannya, berhenti memperdulikannya, dan bersikaplah biasa saja.
Lakukan dan jangan kau tanyakan lagi!

Selasa, 09 Desember 2014

Aku, Kamu dan Dirinya

Dia bilang, kisah ini seperti kisah cinta segitiga.
Tapi aku merasa, ini hanyalah sebuah ketidakadilan semata.
Tapi siapa peduli? Yang bisa aku lakukan hanya diam, dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Mungkin aku hanya merasa sedikit...cemburu atas ketidakadilan ini.
Ya, cemburu..
Melihat dia begitu menyayangimu, sedangkan kau terlihat begitu acuh tak acuh kepadanya.
Sungguh tak adil bukan?

Senin, 08 Desember 2014

Surat Untuk Kekasih

Apa kabar? Rasanya sudah terlalu lama kita tidak bertatap muka.
Bercanda, tertawa, bahagia bersama.
Melepas penat dan kegelisahan bersama. 
Semoga kau baik disana.
Oh ya, apakah kau tidak bosan seperti ini? Hanya diam dan menunggu jawab dariku?
Ayo berbicaralah.. berhenti seperti anak kecil. Aku merindukanmu!
Tidakkah kau merasakan hal yang sama sepertiku? Jangan membuatku terus bersedih.
Ayo kembali seperti dahulu, kita berbincang, menikmati hari-hari bersama.
Menikmati indahnya senja, hembusan angin, indahnya langit malam.
Ah!! Aku merindukanmu!!! Sungguh!
Tolong kecilkan sedikit egomu. Bila perlu, buang semua ego dan rasa gengsimu!
Aku merindukanmu........sayangku...
Bila engkau melihat pesan ini, temui aku! Di cafe tempat biasa kita berjumpa.

Dari aku,
yang selalu menyanyangimu..

Senin, 17 November 2014

Bukan Sebuah Penyesalan

Aku berharap waktu bisa diputar kembali agar aku bisa mengulang semuanya dari awal.
Membuka lembaran baru, memperbaiki yang salah, memperbaiki kekurangan yang ada, dan...
Tetap menganggapmu sebagai teman terbaikku, sebagai seorang pemimpin diantara segala yang kau jalani pada waktu itu.
Seharusnya aku sadar, bahwa memilikimu nantinya hanya akan membuat hati ini terluka.
Seharusnya aku sadar, bahwa dirimu dan dirinya benar-benar dipertemukan dalam satu ikatan yang sah.
Tidak.. Aku tidak akan menyesali semua ini.
Semua ini hanyalah takdir. Takdir tentang aku, kamu dan dia.
Takdir tentang aku yang tak harus bersamamu dan takdir bahwa kau memang pantas untuk bersanding dengan dirinya.

Pergi dan Jangan Kembali!

Kamu tahu rasanya? Menyakitkan ketika aku tahu kau bukan milikku lagi.
Rasanya ini semua tak adil.
Kenapa kau bisa terus selalu bersamanya, sedangkan aku?
Sakit.. ketika aku tahu kau begitu menyanyanginya.
Hancur.. ketika aku tahu kau sangat mencintainya.
Alasan bodohmu itu hingga saat ini tak bisa aku terima!
Alasan bodohmu itu hanya membuatku selalu bertanya-tanya!
Ini sangat tidak adil! Kau bisa memberikan kesempatan kepada yang lainnya.
Sedangkan aku? Kau begitu cepat mengambil keputusan.
Jika benar kau mencintai dirinya, jangan.. jangan lagi kau masuk kedalam kehidupanku.
Jangan lagi kau hancurkan perasaanku! Jangan lagi berikan harapan kepadaku!
Dan berhenti untuk menjadi bayang-bayang gelap didalam hidupku..